Catatan OnlineKu. Diberdayakan oleh Blogger.
RSS
Tampilkan postingan dengan label Islamic. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Islamic. Tampilkan semua postingan

Renungan Wanita



"Karena Saya TIDAK CANTIK, Alhamdulillah Saya HARUS tetap BersyukuR"

Karena saya tidak CANTIK saya harus LEBIH BANYAK BERSYUKUR dari pada mereka yang dikarunia Wajah CANTIK.


Karena saya tidak Cantik, Alhamdulillah saya jadi tidak tergoda mengupload photo di akun saya. Yang tentunya wajah Cantik akan dapat meluluhkan keimanan seorang ikhwan.

Karena tidak memajang wajah, Alhamdulillah saya bisa membantu mata laki-laki terjaga....
Karena mata laki-laki terjaga, Alhamdulillah saya bisa membantu mereka mengamalkan QS An-Nur ayat 30.

Karena laki-laki bisa menjaga pandangannya, Alhamdulillah mereka bisa terhindar dari zina mata dengan terus memandangi wajah kita di Facebook.. Alhamdulillah mereka bisa terhindar dari zina setelahnya yaitu berlanjut ke zina hati dengan membayangkan sang pemilik wajah dapat dimiliki.. Alhamdulillah mereka bisa terhindar dari zina setelahnya yaitu zina tangan ketika ternyata sang pemilik wajah tak keberatan dijadikan kekasih...


Walaupun saya tahu saya tidak cantik, saya tetap ingin banyak bersyukur...

Alhamdulillah,,,karena saya tidak cantik , saya tdk mnjdi mangsa gangguan laki2 yg rusak iman dan akhlaqnya.


Alhamdulillah,,,karena saya tdk cantik , saya dpt memelihara diri saya dari pandangan nafsu lelaki yg tdk menjaga pandangannya.

Alhamdulillah,,,karena saya tdk cantik , saya selamat dari menjadi senjata syetan... untuk merobohkan benteng keimanan seorang lelaki.

Alhamdulillah,,, Karena saya tidak CANTIK , saYa jadi tdk mengharapkan pujian dari laki-laki dan wanita.

Alhamdulillah,,,karena saya tdk cantik , pada akhirnya saya akan menemukan insan yg ikhlas mencintai saya apa adanya.

Karena saya tahu saya tdk cantik pada wajah dan pandangan manusia , maka saya harus belajar dan berusaha menjdi cantik pada pandangan ALLAH Subbhaanahu Wata'ala

Karena bukan kecantikan dunia yang menyelamatkan , tetapi kecantikan akhlaq yang akan membawa kita menuju kebahagiaan akhirat.

Aamiin ya Robbal'aalamiin


Ya, dengarlah ukhty.. ketika engkau meremehkan satu hal yaitu "MEMAJANG PHOTO WAJAHMU" engkau tidak sadar banyak sekali peluang zina yang akan terjadi, dan ketika engkau mau menghindari satu hal yang mungkin dianggap remeh ini, tanpa engkau sadari, engkau telah banyak membantu para lelaki dari fitnah(ujian.red) seorang wanita.

CANTIK itu tak hanya ANUGERAH
Tapi juga UJIAN.. UJIAN yang sangattt.. sangatttt berat...
Ketika kecantikan hanya menjadikan kita makhluk yang angkuh..
Ketika kecantikan itu hanya menjadi ladang dosa.
Ketika kecantikan itu menjadikan kita ingin selalu disanjung dan dipuja.
Ketika kecantikan itu tak di hijabi.
Sungguh... KECANTIKAN adalah amanah, jika engkau tidak mampu menjaganya, niscaya KECANTIKAN itu hanya akan menjadi fitnah.


Jangan pernah IRI dengan kecantikan fisik ukhty Fillah..
Mari kita IRI kepada muslimah yang cantik akhlaknya..
Jika di dunia kita tidak cantik, maka mempercantik akhlak adalah jalan yang indah agar kita menjadi Bidadari-Bidadari Surga.

Allahumma Aamiin.







Sumber (  Izinkan Aku Menikah Tanpa Pacaran )
Read more

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read User's Comments0

Mempererat Tali Persaudaraan





☆♥..(¯`*•.¸☆♥¸.•*´¯)..♥☆
♥♥ Salam Ukhuwah ♥♥
☆♥..(¯`*•.¸☆♥¸.•*´¯)..♥☆
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Sahabat saudaraku fillah..
Ukhuwah ( persaudaran ) itu bukan hanya terletak pada pertemuan. Bukan pula pada manisnya ucapan di bibir , bukan yang selalu di depan mata dan bukan juga yang selalu di sisi kita, tetapi dia yang setia di hati dan mengingat kita pada setiap bisikan do’anya. Bukankah salah satu do’a yang diijabah adalah do’a yang kita panjatkan untuk seseorang tetapi orang yang kita do’akan tidak mengetahui kita mendo’akannya?
Ukhuwah itu ibarat satu janji yang dibuat di dalam hati, tak dapat ditulis dan dibaca , namun tak kan terpisahkan oleh jarak dan tak kan berubah oleh waktu. Sedetik di mata akan selamanya di dalam hati. Ingatlah dalam suka dan duka, rindulah bila berjauhan, pahami jika keliru, saling menasehati bila khilaf dan saling memaafkan jika terluka. 
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman : “ Sesungguhnya orang – orang mukmin adalah bersaudara, oleh karena itu damaikanlah antara kedua saudara kalian dan bertakwalah kepada Allah supaya kalian mendapat rahmat “ ( QS. Al – Hujurat : 10 )
Demikian juga Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda :
“ Tidak beriman seseorang dari kalian hingga dia mencintai saudaranya seperti dia mencintai dirinya sendiri. “ ( HR. Bukhari dan Muslim, dari Anas ).
“ Janganlah kalian saling mendengki, saling curang, saling membenci, saling membelakangi dan janganlah sebagian kalian menjual atas penjualan sebagian yang lainnya. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara . Seorang muslim adalah bersaudara , janganlah mendhaliminya, merendahkannya dan janganlah mengejeknya. Takwa itu ada di sini. Beliau menunjuk ke dadanya sebanyak tiga kali. Cukup dikatakan jelek seorang muslim jika ia menghina saudaranya. Setiap muslim atas muslim lainnya haram darahnya, hartanya, dan kehormatannya “( HR. Muslim ).
Sahabat saudaraku fillah..
Seringkali kita berdo’a supaya Allah memberi kebaikan kepada kita. Lalu Allah memberikan pertolongan melalui pesan atau nasehat dari teman kita. Tetapi terkadang kita mengabaikan nasehat tersebut karena mungkin dikemas dan disampaikan oleh orang yang kurang kita sukai. Akibatnya nasehat tersebut berlalu begitu saja dan kita tidak mendapatkan apa – apa. Seperti sebuah pepatah, janganlah melihat sebuah buku hanya dari sampulnya saja. Tapi coba buka lalu kita baca dan pahami barangkali ada manfaatnya buat kita. Demikian pula pesan yang kami sampaikan melalui page ini sekiranya bermanfaat silahkan dibaca, dipahami lalu kita amalkan, jangan lupa tolong ajak sahabat dan saudara-saudara yang lain untuk ikut bergabung dengan page kami. Caranya mudah, silahkan klik nama page ini lalu klik suka…maka secara otomatis sahabat sudah bergabung dengan page kami. Tolong sarankan juga kepada sahabat, saudara atau keluarga untuk ikut bergabung.... Di sini kita bisa saling berbagi…Indahnya ukhuwah bila segalanya karena Allah. Semoga Allah meridhai putik –putik ukhuwah yang kita tebar dalam perjalanan hidup ini dan semoga Allah mengikat hati kita hingga ke Jannah-Nya, aamiin..


Demikianlah sahabat saudaraku fillah..semoga catatan ini bermanfaat..
♥♥.•*´¨`*•. (`'•.¸☆¸.•'´) .•*´¨`*•.♥♥




Read more

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read User's Comments0

Kesetiaan Istri Pada Suami Yang Lupuh



Kisah Nyata

Sebuah pelajaran berharga bagi mahluk yang bernama “SUAMI”......

Sekilas apabila kita lihat dari usianya boleh jadi beliau sudah tidak muda lagi, usia yang sudah senja bahkan sudah mendekati malam, Pak Suyatno 58 tahun, dalam kesehariannya diisi dengan kesetiaannya merawat istrinya yang menderita sakit. Mereka menikah sudah lebih dari 32 tahun.

Dalam perkawinannya semula berjalan normal dan mereka dikarunia 4 orang anak disinilah awal cobaan menerpa, setelah istrinya melahirkan anak ke empat tiba-tiba kakinya lumpuh dan tidak bisa digerakkan itu terjadi selama 2 tahun, menginjak tahun ke tiga seluruh tubuhnya menjadi lemah bahkan terasa tidak bertulang lidahnyapun sudah tidak bisa digerakkan lagi.Istrinya hanya bisa menggunakan bahasa isyarat.

Setiap hari sebelum berangkat kerja ke tempat usahanya, Pak Suyatno dengan setia memandikan, membersihkan kotoran, menyuapi, dan mengangkat istrinya keatas tempat tidur dan mengajaknya bercengkerama. Sebelum berangkat kerja dia letakkan istrinya didepan TV supaya istrinya tidak merasa kesepian. Walaupun secara ekonomi Pak Suyatno mampu untuk membayar suster atau pengasuh khusus untuk istrinya, namun itu tidak ia lakukan. Ia hanya mau merawat istri yang sangat ia cintai itu dengan tangannya sendiri. Pembantu di rumah tersebut hanya untuk keperluan rumah tangga, seperti memasak dan mencuci. Disamping merawat istrinya, Pak Suyatno otomatis juga merangkap berperan sebagai “ibu” bagi ke 4 anak-anaknya. Sejak mereka kecil, setelah istrinya lumpuh, Pak Suyatno merawat anak-anaknya seperti halnya yang dilakukan istrinya di kala sehat, antara lain menyiapkan sarapan dan baju seragamnya, juga menemani mereka bermain dekat dengan ibunya.

Walau istrinya tidak dapat bicara tapi dia selalu melihat istrinya tersenyum, untunglah tempat usaha pak Suyatno tidak begitu jauh dari rumahnya sehingga siang hari dia pulang untuk menyuapi istrinya makan siang. Sorenya dia pulang memandikan istrinya, mengganti pakaian dan selepas maghrib dia temani istrinya nonton televisi sambil menceritakan apa-apa saja yang dia alami seharian.

Walaupun istrinya hanya bisa memandang tapi tidak bisa menanggapi, Pak Suyatno dengan setia mengajak istrinya duduk di belakang dia saat Pak Suyatno shalat, seperti sedang berjamaah. Ia-pun sering mengajak istrinya mengaji atau mendengarkan Pak Suyatno mengaji dan juga mengajak sang istri berzikir, meski hanya dalam hati. Semuanya itu dijalani Pak Suyatno dengan ikhlas dan ia sudah cukup senang bahkan dia selalu menggoda istrinya setiap hari, agar istrinya tersenyum.

Rutinitas ini dilakukan pak Suyatno selama 25 tahun, dengan sabar dia merawat istrinya bahkan sambil membesarkan ke empat buah hati mereka, sekarang anak-anak mereka sudah dewasa dan sudah menjadi Sarjana, tinggal si bungsu yang masih duduk di bangku kuliah.

Pada suatu hari ke empat anak suyatno berkumpul dirumah orang tua mereka sambil menjenguk ibunya. Karena setelah anak mereka menikah sudah tinggal dengan keluarga masing-masing dan pak Suyatno memutuskan ibu mereka dia yang merawat, yang dia inginkan hanya satu semua anaknya berhasil.

Dengan kalimat yang cukup hati-hati anak yang sulung berkata ” Pak kami ingin sekali merawat ibu, semenjak kami kecil melihat bapak merawat ibu tidak ada sedikitpun keluhan keluar dari bibir bapak………bahkan bapak tidak ijinkan kami menjaga ibu”.

Dengan air mata berlinang anak itu melanjutkan kata-katanya “sudah yang keempat kalinya kami mengijinkan bapak menikah lagi, kami rasa ibupun akan mengijinkannya, kapan bapak menikmati masa tua bapak dengan berkorban seperti in? Terus terangi kami sudah tidak tega melihat bapak, kami janji kami akan merawat ibu sebaik-baik secara bergantian kalau bapak menikah lagi”.

Pak Suyatno menjawab hal yang sama sekali tidak diduga anak-anak mereka. “Anak-anakku ………, terima kasih atas saran kalian. Hanya saja bapak punya prinsip yang tidak dapat ditawar lagi. Bagi bapak, jikalau perkawinan dan kehidupan di dunia ini hanya untuk memenuhi nafsu kita, terutama nafsu ‘birahi’ mungkin bapak akan menikah lagi sudah sedari dulu……tapi ketahuilah dengan adanya ibu kalian disamping bapak, bagi bapak itu sudah lebih dari cukup, dia telah melahirkan kalian.. sejenak kerongkongannya tersekat,… Anakku, kalian yang selalu bapak dan ibu rindukan hadir didunia ini dengan penuh cinta yang tidak satupun dapat menggantinyai dengan apapun. Coba kalian tanya ibumu apakah dia menginginkan keadaanya seperti ini?. Kalian menginginkan bapak bahagia, apakah batin bapak bisa bahagia meninggalkan ibumu dengan keadaanya sekarang?, kalian menginginkan bapak yang masih diberi Allah swt kesehatan dirawat oleh orang lain?, bagaimana dengan ibumu yang masih sakit. Jujur saja nak, bapak tidak sampai hati, meninggalkan ibumu” kali ini ada tetesan air mata di sudut mata Pak Suyatno. Seketika meledaklah tangis anak-anak pak Suyatno, kemudian merekapun melihat juga butiran-butiran kecil jatuh dipelupuk mata ibu Suyatno, yang dengan pilu ditatapnya mata sang suami yang sangat setia dan sangat dicintainya itu..

Akibat kesetiannya selama puluhan tahun tersebut, sampailah akhirnya pak Suyatno diundang oleh salah satu stasiun TV swasta untuk menjadi nara sumber dan merekapun mengajukan pertanyaan kepada pak suyatno, Kenapa beliau mampu bertahan selama 25 tahun merawat Istrinya yang sudah tidak bisa apa-apa selama puluhan tahun?

Pada saat itulah meledak tangis beliau dengan tamu yang hadir di studio kebanyakan kaum perempuanpun tidak sanggup menahan haru, lalu disitulah Pak Suyatno bercerita.

“Bagi saya, jika manusia di dunia ini mengagungkan sebuah cinta dalam perkawinannya, tetapi tidak mau berkorban dengan memberi ( memberi waktu, memberi tenaga, pikiran dan perhatian ) adalah hanya kesia-siaan belaka. Sejak dulu saya memilih istri saya menjadi pendamping hidup saya, dengan tekad kita akan bersama dalam suka maupun duka, hingga Allah swt memanggil kita. Saya tidak akan dapat melupakan jasa-jasa besar istri saya sewaktu dia sehat, diapun dengan sabar merawat saya, mencintai saya dengan hati dan batinnya. Ia juga telah memberi saya 4 orang anak yang lucu-lucu, saleh dan pinter. Di mata saya, ia sehat dan masih cantik seperti 30 tahun yang lalu. Saya tidak pernah menganggapnya lumpuh. Saat saya menyuapinya, saya rasakan sama seperti saat saya menyuapinya kala kita berbulan madu. Saat saya menggendongnya untuk naik dan turun dari tempat tidur, saya merasakan seperti saat kita masih berbulan madu. Setiap kali saya melihat wajahnya, sama seperti kala saya melihatnya di kala kami pacaran atau seperti saat saya memandangnya waktu kami berbulan madu”

Pak Suyatno kemudian melanjutkan,”Sekarang dia dalam kondisi sakit setelah melahirkan anak kami. Ia telah berkorban untuk cinta kami bersama. Bagi saya kondisi itu merupakan ‘ujian’ dari Allah bagi saya. Apakah saya dapat memegang komitmen untuk mencintainya apa adanya. Dalam kondisi ia sehatpun belum tentu saya mencari penggantinya apalagi dia sedang dalam keadaan sakit. Tidak, tidak, bahkan berpikir untuk itupun saya tidak mau. Biarlah saya ikhlas menjalani takdir Allah ini, saya yakin “Gusti Allah ora sare”, Tuhan tidak pernah tidur. Sekecil apapun yang saya berikan kepada istri saya dan anak-anak, saya niatkan hanya untuk ‘ibadah saya kepada Allah swt. Dan saya yakin Allah pasti akan memperhitungkan apapun yang kita perbuat, sekecil apapun. Saya berusaha mengikuti Rasulullah, tauladan saya yang mencintai dan melayani istrinya, bukan hanya dilayani. Sekarang ini harapan saya hanya satu, ijinkan saya merawat istri saya yang sanat saya cintai hingga Allah memanggil salah satu diantara kita. Kalapun ia dipanggil lebih dulu, saya bertekad untuk tetap mencintainya dan tidak akan menikah lagi. Istri saya adalah cinta dunia dan akhirat saya. Kalau Allah mengizinkan kami masuk surga, Insya Allah, saya menginginkan ia jadi Bidadari saya di Surga”

Kali ini Pak Suyatno sama sekali tidak menangis, justru penontonlah yang menangis.

Saya-pun tak terasa ikutan menangis. Pak Suyatno, sungguh luar biasa kesetiannmu, pelajaran berharga bagiku dan para suami yang lain. Semoga Allah swt memberikan kebaikan yang banyak buatmu. Amiin :))

*semoga bermanfaat*

inspirasiku ( ﷲ Taman Hikmah Islami ﷲ )
Read more

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read User's Comments0